Minggu, 18 Februari 2018

Cerpen

          Antara aku dan serdadu itu 

Source wall.alphacoders.com 

Dahulu aku selalu berpikir kenapa orang bisa buta karena cinta? apakah cinta sedahsyat itu, mengalahkan logika manusia dan juga melebihi dahsyatnya bom hiroshima dan juga nagasaki. Aku sering ngedumel dalam hati, "perempuan bodoh, kenapa menyerahkan segalanya, mulai dari badan sampai harta untuk sesuatu yang sia-sia, dasar bego! " ketika melihat tayangan di televisi yang tidak realistis dan juga membodohi masyarakat dan juga wanita. "Wanita bodoh itu membuat standar wanita menjadi jeblok, " sungutku lagi.

Tapi mungkin sekarang roda mulai berputar bagiku, aku takkan mampu mengucapkan "kata-kata sarkas" itu lagi, karena kini tokohnya telah berubah.

Aku mengenalnya di suatu siang yang sibuk, dia kelihatan mondar-mandir di lorong rumah sakit khusus serdadu ini, dia terlihat mempesona dan gagah dengan baju kebesarannya yang terlihat keren dan juga bikin silau orang yang melihatnya, termasuk aku.

Memang semua orang sudah mahfum, kami adalah pencinta serdadu, dimana ada kami, disitu pasti ada serdadu-serdadu yang berdiri gagah dengan laras panjangnya. Mulai dari jaman penjajahan, kami tak terpisahkan. Bagai mata uang koin, tidak bisa berdiri sendiri, harus 2 sisi.

" Hei, " ternyata si serdadu memiliki pikiran yang sama, dia mengagetkanku dari lamunan, dari sapaan pendek dan terdengar receh itu akhirnya kami bersua, karena kecocokan dan entah itu yang disebut sebagai sebuah reaksi kimia antara jantan dan juga betina, akhirnya kami melanjutkan hubungan yang dimulai dengan receh itu menjadi hubungan yang lebih serius lagi.

 "Cinta" mungkin aku sudah kena getah dari si merah jambu itu. Aku yang dulunya berlogika menjadi seseorang yang bego seperti kataku sendiri, ya aku menelan kata-kataku sendiri, aku kualat, kualat.

 Mungkin pada awalnya si serdadu memberikanku impian yang muluk, apalagi kami memang sudah sevisi dan semisi. Aku tidak tahu ternyata di baliknya ada si udang di balik batu, dia menyembunyikan sifat aslinya sekaligus kebiasaannya yang ternyata busuk. " maaf aku pulang telat! " kalimat tersebut adalah kata favorit darinya. Aku hanya menerka dan menebak, hal apa yang sebenarnya ia lakukan dan jawabanku terhenti pada jawaban berjaga malam seperti sebuah bulldog di rumah majikannya.

dia sering pulang malam sejak saat itu, awal pernikahan sampai sekarang tak berubah, serdadu itu mulai berubah menjadi burung hantu. Entah apa yang dilakukannya di luar sana. Apa dia tertawa terbahak-bahak dengan para wanita yang memberinya cawan madu sebanyak yang dia inginkan selama dia memberinya uang satu kantong besar, karena para wanita itu membutuhkan uangnya untuk membeli make up. Atau uang itu digunakan untuk hal lain yang lebih menjijikkan daripada itu semua.

"Aku kacau, kacau, hancur, " sambil merutuki diri sendiri dalam kesendirian malam. Malam-malam berlalu seperti biasa, aku sudah terbiasa dengan ketidakhadiran si serdadu pada malam-malam yang dingin menusuk kulit ari.

"Tok....tok...tok...." pintu diketuk pada jam 9 malam. Seketika ketika pintu kubuka, kulihat si serdadu dengan menenteng baju kebesarannya  yang telah kotor karena lumpur. " maafkan aku, buang ini! " dia menyuruhku untuk segera membuang baju yang selama ini dia cintai sepenuh hati melebihi diriku.

Aku tidak bertanya apa-apa lagi karena kutahu dari air mukanya yang kusut sejak dari tadi bahwa pikirannya sedang kacau sekarang mungkin juga rumit sekali seperti gulungan benang yang kusut. Waktu dia sedang mandi karena penasarannya aku membuka tas berantakan yang tadi berada di punggung kekarnya. Kubuka berkas satu-persatu sampai aku menemukan kertas itu, mulutku menganga lebar saking terkejutnya, antara kecewa, marah serta sedih bercampur menjadi satu. " yoga andika, dipecat secara tidak hormat dari kesatuan karena melakukan perbuatan yang dilarang yakni judi, " dunia dan mimpiku runtuh seketika, aku rubuh saat itu juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar