Sabtu, 03 Maret 2018

Cerpen


Antara aku dan napi wanita itu 






When I'm feeling blue, all I have to do
Is take a look at you, then I'm not so blue
When I'm in your arms, nothing seems to matter
My whole world could shatter, I don't care
 - song from phil collins " a groovy kind of love - 

Aku melihatnya di ujung jalan antara kehidupan dan juga kematian. Aku terhipnotis dengan pesona wanita itu, wanita dengan tatanan rambut kepang dua yang sangat khas gadis desa, entah apa yang membawanya ke tempat hina ini, apakah dia seorang pendosa, apa dia hanya korban, aku sudah tidak perduli lagi karena di hatiku sekarang tumbuh bunga sedap malam yang sangat harum.

Seharusnya kuenyahkan saja rasa ini, aku adalah penjagalnya untuk hari ini, aku adalah seorang malaikat pencabut nyawa karena dengan senjataku aku akan menghujamkan selongsong peluru panas untuk menghujam hati wanita itu yang tak ketahui namanya itu, si gadis desa.

Yang aku tahu, dia memiliki tatapan mata yang teduh dan tak mungkin menjadi seorang penjahat, tapi siapa yang peduli dengan tampilan luar, karena beberapa menit lagi waktunya telah tiba, dan tak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan wanita itu, si gadis desa, atau harusnya aku yang harus diselamatkan dari kegalauan dan juga kegundahan karena cinta pada pandangan pertama.

30,29,28,27..

Kuhitung waktu secara terbalik berharap waktu akan berhenti sekarang juga, tapi waktu malah semakin cepat dan cepat seiring dengan detak jantungku yang berdegup kencang menerima takdirku yang pahit sebagai penjagal wanita pujaan hati, si gadis desa tanpa nama.

1,2,3

aku menembakkan peluru yang panas itu dengan cucuran air mataku yang mengalir seperti sungai missisipi di negeri nun jauh disana. Tapi setidaknya aku bahagia, sebelum aku menembaknya tadi aku sudah bertanya nama wanita pujaan hatiku, si gadis desa. " tanem, " dia menjawab dengan wajah hampa yang kosong.

Setelah aku mengetahui namanya dan menyimpannya dalam lubuk hatiku yang dalam sebagai kenangan, kumasukkan juga segala kenanganku bersama dengan senjata kesayanganku dan juga pangkat kebesaranku, " kenapa berhenti ? " tanya atasanku.

Tapi aku tidak menjawab jalanku goyah dan tidak bersemangat lagi, aku menuju pemakaman si wanita, gadis desa, tanemku dan mulai bergumam, " andai aku datang ke hidupmu lebih cepat lagi, maka aku tidak akan menjadi malaikat pencabut nyawamu, " kataku dalam sesal dan dalam hampa karena telah kehilangan cinta pada pandangan pertama yang berakhir dengan airmata dan juga darah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar