Sabtu, 17 Februari 2018

My bullying stories




ilustrasi bullying 


Selamat siang pembaca semuanya!

Hari ini saya akan membicarakan tentang bullying. Yups, saya benci kata ini karena mengingatkan akan kesedihan dan juga rasa traumatis saya yang terjadi waktu saya masih belia dulu.

 Ya, saya adalah seorang introvert yang aneh dan sekarang telah berubah menjadi anxiety disorder alias seseorang yang menderita kecemasan akut akibat traumatis pada waktu saya masih belia dulu.

 Saya menjadi korban  bullying waktu saya masih kelas satu SMP. Pada awalnya saya mengikuti MOS alias masa orientasi siswa di sekolah saya - sebut saja SMP X - dengan bahagia dan tak ada kendala. Sampai akhirnya sifat introvert saya muncul ke permukaan dan akhirnya saya lebih senang duduk menyendiri di pojokan kelas dan juga menulis buku diary tanpa ada satu orang pun yang mengganggu saya.

Tapi hal itu tidak berlangsung lama, sampai di kelas banyak siswi-siswi bengal yang suka minum " ciu" ( tuak khas jawa) dan suka berdandan mulai membully saya. Membully disini bukan membully yang sifatnya menyiksa secara fisik, it is not about it, tapi lebih kepada menyiksa secara verbal.

Kata-kata hinaan dan cemoohan hampir saya terima setiap hari, memang saya akui saya tidak wangi alias sedikit bau badan waktu itu, mungkin karena efek pubertas, jadi para siswi bengal itu akan mengejek saya dengan kata " wedhus" alias kambing jika diartikan dalam bahasa indonesia.

Pernah suatu hari saya sedang mengerjakan tugas saya yang diperintahkan oleh guru untuk dikerjakan, karena saya adalah target bully, wanita itu sebut saya mawar menjambak rambut saya dari belakang, sampai rasanya sakit sekali, karena tidak tahan lagi akhirnya saya ambil buku paketnya lalu saya sobek-sobek sampai jadi kecil.

Dan bully-an yang lainnya adalah ketika saya memakai anting terbaru saya, entah karena wanita itu ingin memakainya juga atau entah alasan apa, dia kemudian mengatai saya sebagai " gadis WTS alias wanita tuna susila" dan sebenarnya masih banyak lagi bully-an yang saya terima, tapi tidak mungkin saya ceritakan satu-persatu, karena kalau saya tulis semua mungkin tidak akan habis dalam satu buku tebal ensiklopedia britania.

Akibat dari aksi bullying verbal tersebut akhirnya saya jadi minder dan merasa sendiri serta merasa terasing di dalam kelas yang ramai, seakan saya hanyalah debu yang tidak berguna di dunia ini. Tidak ada satu orang pun manusia di bumi ini yang dapat mengerti saya, penderitaan saya, bahkan kedua orang tua sekalipun.

Saya selalu malas untuk pergi ke sekolah, sekolah bagi saya adalah neraka, ya sekarang saya dapat menyebutnya dengan istilah inferno. Saya benar-benar putus asa, bahkan Tuhan pun seakan meninggalkan saya di dunia ini sendiri dengan beban yang sangat berat di pundak dan juga hinaan serta cacian yang menyakitkan hati.

Saya memulai percobaan bunuh diri saat usia saya masih menginjak usia 14 tahun, saya menenggak racun tikus, tapi entah kenapa racun itu tidak bereaksi saya hanya muntah-muntah dan tak sampai mati. Dan sekarang saya masih hidup, terbukti saya masih menulis penderitaan saya ini.

 Dan kejadian yang terjadi beberapa tahun silam itu terekam jelas di memori saya, saya tak mungkin pernah lupa bahkan sampai saya di-tali pocong. Dan karena hal itu juga akhirnya saya mengalami yang namanya anxiety disorder alias gangguan kecemasan, saya akan takut berhadapan dengan orang lain, saya takut akan adanya penolakan dari orang-orang dan bahkan saya takut ditatap oleh orang lain, saya merasa diri saya tidak pantas untuk dikenal bahkan untuk dicintai oleh orang lain, saya terasing dengan pikiran saya yang sempit, saya terasing di dunia yang ramai ini karena efek bullying yang menimpa saya waktu masih belia dulu.

Iya, saya kadang merasa kesal sekaligus iri kepada teman-teman saya yang dulu membully saya, mereka hidup bahagia dengan hidup mereka yang sempurna menurut saya, tapi saya, saya seperti terjatuh ke dalam sumur trauma yang membelenggu saya seumur hidup.

Kadang saya merasa Tuhan itu tidak adil, bagaimana Dia yang katanya Maha adil itu memberikan keadilan bagi saya yang selalu merasa sendiri dalam hidup ini. Saya pernah berpikir mungkin banyak dosa yang telah saya lakukan di masa lalu, di kehidupan sebelumnya, sehingga saya " bereinkarnasi" menjadi orang yang paling menderita di seluruh dunia.

Tapi, ya sudahlah sekarang saya mulai menata lagi hidup saya yang berantakan seperti kapal pecah ini Dan mulai menyusunnya menjadi urutan yang indah dan juga bersih lagi. Dan saya sekarang sudah siap untuk mengucapkan " goodbye" untuk kenangan saya yang pahit, saya percaya bahwa saya akan memiliki kehidupan yang lebih baik setelah ini, bukankah ada pepatah yang diucapkan oleh R.A Kartini dalam surat-suratnya, habis gelap terbitlah terang. Ya, saya bisa saya akan berusaha!


Ya, demikianlah sedikit kesedihan saya tentang bullying yang bikin trauma. Adakah yang dibully seperti saya, mungkin kita bisa bertukar pengalaman ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar