Kisah sebuah ikrak
Namaku intan, aku adalah seorang gadis jawa tulen. Tapi sekarang aku tinggal di banda aceh. Ngomong-ngomong tentang budaya jawa, pasti identik sekali dengan adat istiadat yang kental dan diwariskan turun-temurun dari pendahulu sampai dengan anak cucu. Adat jawa terkenal dengan penyatuan-penyatuan unsur alam ke dalam hubungan kemasyarakatan. Contohnya ketika berhubungan dengan pelaksanaan suatu acara, orang jawa tidak langsung “ mengiyakan “ apapun tanpa melihat hari baik mereka. Hari baik sendiri merupakan hari yang dipercaya dapat memberikan suatu keberkahan dan juga keselamatan bagi si empunya acara. Apabila tetap di lakukan di hari yang tidak dianggap sebagai hari baik menurut penanggalan jawa kuno maka hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi.
Pertama kali kudengar hal ini kupikir ini hanyalah sebuah mitos dan juga omong kosong. Hal ini sering kutanyakan kepada ibuku, “ kenapa harus melakukan ini ? “ atau, “ kenapa tidak boleh melakukan itu ? “ maka jawaban ibuku pun klise, “ huss, jangan bertanya macam-macam. “ dan aku hanya mengangguk-anggur tapi di kepalaku penuh dengan tanda tanya. Pertanyaan pun terjawab ketika aku sudah beranjak dewasa, “ oh, ternyata seperti itu, “ memang tidak dijelaskan kenapa harus percaya pada mitos kepercayaan leluhur jaman dahulu, kita hanya perlu melakukannya saja, tanpa harus bertanya lebih lanjut lagi.
Aku lahir di hari minggu, dan kemudian ditambahkan weton wage sebagai embel-embelnya, sehingga menjadi minggu wage dalam penanggalan jawa. Konon katanya waktu aku lahir di dunia ini, aku harus dibuang dulu di dalam “ ikrak” ataupun alat yang biasanya digunakan untuk membuang sampah, bukan karena ibuku kejam atau tidak menginginkanku, tapi karena weton ibuku dan aku sama-sama minggu wage. Mau tidak mau aku harus mengikuti ritual itu, untuk mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Tentu bayi itu tidak dibiarkan berhari-hari di dalam ikrak, harus ada orang lain dengan weton yang berbeda yang memungut bayi itu. Akhirnya ada seseorang yang baik hati yang dengan rela memungut ku untuk menjadi anak angkatnya. Dan orang tersebut adalah budheku sendiri yakni kakak ipar ibuku. Tanpa sepengetahuan orang lain ternyata budheku itu memiliki weton yang sama denganku dan juga dengan ibuku, sehingga tak beberapa lama kemudian akhirnya budheku meninggal. Meskipun terasa ganjil bagiku ketika mendengar ibuku bercerita, tapi sepertinya memang benar pantangan untuk berbohong tentang weton ataupun tanggal lahir dan walaupun sulit dipercaya memang tapi ini nyata, budheku meninggal tanpa ada penyakit apapun. Ibuku sering dijumpai oleh mendiang almarhumah budhe dalam mimpinya, “ kenapa kau memberiku anak ini ? “ walaupun agak sedikit horor tapi seperti yang dibilang oleh tetua kampungku, aku dan ibuku jarang sekali sakit katanya karena melalui serangkaian adat jawa seperti ceritaku di atas.
Beda lagi tentang pernikahan adat jawa, kedua keluarga membicarakan weton kedua mempelai, biasanya calon mempelai yang memiliki weton “ geyeng” ataupun saling berlawanan atau bersinggungan maka hidupnya nanti akan dilanda kemiskinan, kesusahan maupun penderitaan, sehingga banyak dari pasangan yang “ geyeng” tersebut lebih memilih untuk mengurungkan rencana awal mereka untuk menikah ataupun opsi lainnya yakni memilih hari baik sebagai penangkal sengsara yang akan terjadi nantinya. Contoh yang sangat nyata adalah kehidupan tetanggaku, tetanggaku ini sangatlah modern dan tidak percaya kepada weton, penanggalan jawa atau hal-hal yang berbau mitos lainnya dan mereka hanya menganggapnya sebagai dongeng pengantar tidur di malam hari. Walau pun sebenarnya kedua orang tua mereka telah melarang mereka berdua untuk menikah tetapi mereka tetap melangsungkan pernikahan. Dan apa yang terjadi ? Sebenarnya pada awal pernikahan mereka berdua terlihat sangat bahagia tapi kemudian berangsur mengalami suatu kemunduran sedikit demi sedikit. Pada awalnya sang suami di PHK karena mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan tangannya diamputasi sedangkan sang istri terserang kanker tahap awal. Setelah ditanyakan oleh ibuku, mereka mengaku bahwa weton mereka “ geyeng “ alias berlawanan. Mau tidak mau akhirnya mereka percaya bahwa “ hal seperti itu “ memang masih ada dan mereka pun pada akhirnya hanya dapat menyesalinya.
Berbicara mengenai weton maupun penanggalan jawa sendiri terdiri dari lima yakni legi, pahing, pon, wage dan juga kliwon. Sedangkan harinya sendiri dapat dibagi lagi menjadi selasa pon, sabtu pahing, kamis pahing, senin legi, jumat kliwon, rabu kliwon, minggu wage, kamis pon. Bahkan menurut tetua jaman dahulu, sifat seseorang pun dapat dilihat pada weton apa orang tersebut dilahirkan. Seperti misalnya aku yang lahir di minggu wage memiliki arti sifat yang keras namun sebenarnya welas asih maupun baik hati. Dan hal itu tidak sepenuhnya salah, nyata nya aku sedikit keras kepala tapi aku tidak memiliki sifat antagonis seperti di sinetron. Beda lagi dengan adikku, dia memiliki weton kamis pahing, katanya dia memiliki sikap “ anggara kasih” banyak orang yang menyayangi serta mengasihinya karena sifatnya yang berbudi. Jadi penerawangan kepribadian ini hampir mirip dengan ramalan zodiak ataupun ramalan shio tapi versi jawa. Percaya tidak percaya, kembali ke individu masing-masing. Bahkan ketika weton seseorang berulang di hari-hari tertentu, keluarganya pun harus “ bancakan “ atau menggelar pesta kecil-kecilan untuk memperingati hari lahir nya, karena apabila tidak bancakan, maka si orang ini akan menunjukkan perilaku buruk ataupun mood buruk seperti misalnya marah-marah seharian ataupun ngambek seharian. Ke percayaan masyarakat jawa ini Walaupun tidak begitu terlihat sekarang tetapi masih dilakukan dan juga dipercayai oleh beberapa orang.
Kalau menurutku sendiri, kebudayaan ini unik dan satu-satunya yang harus dilestarikan olehku dan teman-temanku yang lainnya agar tetap lestari bukan hanya “ dongeng” untuk anak dan cucu nanti. Ketika orang lain bangga dengan budaya leluhurnya, kita juga harusnya bangga pada budaya leluhur kita agar identitas kita tak tergerus oleh kemajuan informasi dan tekhnologi yang semakin maju. Mari kita melestarikan budaya kita sendiri dengan cara mencintainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar