Summer in seoul
Dulu kalau aku tak begitu, kini bagaimana aku ?
Dulu kalau aku tak disitu, kini dimana aku ?
Kini kalau aku begini, kelak bagaimana aku ?
Kini kalau kelak aku disini, kelak dimana aku ?
Tak tahu kelak ataupun dulu
Cuma tahu kini aku begini
Cuma tahu kini aku disini
Dan kini aku melihatmu
Konon ketika seseorang dalam keadaan hidup dan mati, ia akan bisa melihat potongan-potongan kejadian dalam hidupnya, seperti menonton film yang tidak jelas alur ceritanya. benarkah begitu ?
Oh ya, ia sedang mengalaminya. Ketika tubuhnya terlempar kesana-sini, pandangannya mendadak gelap, namun anehnya ia kemudian bisa melihat wajah seseorang dengan jelas. Ia juga bisa mendengar suaranya
Betapa ia sangat merindukannya sekarang, ingin bertemu dengannya, ingin berbicara dengannya. Ada yang harus ia katakana pada orang itu. Ia harus memberitahunya ia rindu.
Hanya sekali saja. . .
Kalau boleh, ia ingin mengatakannya sekali saja. . .
Kalau boleh, ia ingin melihatnya sekali saja. . .
Tapi tidak bisa. . .
Suaranya tidak bisa keluar. . .
Ia tidak punya tenaga untuk bicara. . .
Itulah penggalan prolog dari novel summer in seoul karya Ilana Tan. Saya pertama kali membaca prolog ini, berpikir bahwa penggalan prolog itu diucapkan oleh tokoh utama, tapi tebakan saya salah, ternyata penggalan itu diucapkan oleh tokoh yang bisa kita katakana tokoh selingan, hanya sekilas tokoh ini muncul dalam novel romantic ini.
Tokoh utama wanita dalam novel ini adalah Han soon hee, atau biasa dipanggil sandy, gadis blasteran korea-indonesia, yang bekerja sebagai asisten perancang busana di seoul. Sedangkan tokoh utama pria dalam novel ini yaitu jung tae woo, seorang penyanyi terkenal di korea selatan, yang sering mendapatkan gossip miring.
Mirip cerita dalam drama-drama ataupun film korea, pasangan ini bertemu secara kebetulan, ketika handphone tae woo tertukar dengan milik sandy di sebuah toko, di bagian ini saya jadi teringat salah satu scene di drama love rain ketika hape milik hana tertukar dengan hape milik seo joon di stasiun kereta api.
Awal mula masalah dimulai ketika jung tae woo meminta bantuan sandy, agar sandy mau menjadi pacar bohongan tae woo, lagi lagi ini mirip dengan drama korea full house, dimana lee young jae meminta bantuan kepada han ji eun agar mau berpura-pura menjadi istrinya, kebetulan yang sama persis kan. Saya berpikir bahwa penulis adalah pecinta drama korea, sehingga tulisannya membuat saya sebagai pembaca merasakan suasana percintaan ala drama drama romantis korea
Semenjak menjadi pacar pura-puranya jung tae woo, sandy sering diajak pergi kemanapun oleh tae woo, bahkan diajak pergi ke daerah pertokoan apgujeong - dong, dan berhenti di toko mewah milik model pakaian terkenal korea, Danny. Ah, danny ini juga akan muncul di seri novel liana tan yang lain yaitu spring in London, saya akui memang liana tan adalah penulis yang sangat kreatif, dia membuat 4 novel bertema season dengan kota-kota yang berbeda, tokoh yang berbeda pula, tapi sebenarnya berhubungan satu sama lain. Tokoh danny ini hanya muncul sekali dalam summer in seoul sebagai pemilik toko mewah di apgujeong- dong, kemudian dia menjadi sentra cerita dalam spring in London.
Sandy diminitai pendapatnya oleh jung tae woo tentang hadiah apa yang cocok diberikan untuk penggemarnya ketika jumpa fans nanti, sandy memberi saran untuk memberikan bros untuk 10 penggemar beruntung, tapi hal itu malah membuka kenangan pahit tae woo dengan salah satu penggemarnya dulu. Bros itu kemudian diganti dengan hadiah lain, yaitu 10 buah topi dan 1 syal special.
“ aku sudah pernah memberikan bros untuk penggemarku dulu, “ kata jung tae woo.
“ahh, benar juga. “ sandy mengangguk-angguk sambil terus mengamati bros-bros itu. “ waktu itu sudah pernah ya . . .”
Beberapa detik berlalu tanpa tanggapan, meski begitu sandy merasa jung tae woo sedang menatapnya. Sandy pun mengangkat kepala dan melihat kea rah laki-laki itu. Ah, sepertinya ia keliru, tae woo sedang memandang kea rah lain.
Summer in seoul halaman 48
Dalam bab 4 ini kita dibuat sedikit penasaran tentang siapa sebenarnya fans itu, apa hubungannya dengan tae woo dan sandy.
Kejadian lucu yang membuat saya sedikit terhibur terjadi ketika acara penggemar dimulai, sandy datang bersama temannya kang young mi, kang young mi adalah penggemar berat jung tae woo. Semua fans yang beruntung mendapatkan hadiah berupa topi dari jung tae woo, sudah 9 topi dibagikan, tinggal 1 topi yang belum dibagikan. Sebelum acara memang para fans sudah disuruh oleh panitia untuk memberikan nomornya kepada panitia, agar mudah untuk dihubungi ketika mendapatkan hadiah. Hape sandy berbunyi, ternyata dialah pemenang undian fans itu, sandy maju ke depan, tapi jung tae woo sedikit “ bermain-main” dengannya, dia mengatakan bahwa topinya hilang, sehingga sandy harus menunggu di depan panggung, tapi ternyata jung tae woo hanya menjahilinya dia kemudian melepas syal yang dipakainya dan memakaikannya ke sandy.
Jung tae woo melepaskan syal di lehernya dan melilitkannya di leher sandy. Para penonton pun kembali berteriak dan menjerit. Sandy memandang syaf bermotif kotak-kotak hitam-putih yang sekarang melilit lehernya.
Summer in seoul hal 55
Saya menganggap bahwa bagian ini adalah bagian yang paling manis, lucu dan menarik, mungkin hal ini adalah impian semua pembaca yang membaca novel ini, seorang penggemar fanatik idol penyanyi ataupun aktor korea, untuk mendapatkan hadiah special dari idolanya. Betapa manisnya!
Dalam novel ini juga sebenarnya ada pihak ketiga dalam kisah percintaan tae woo dan sandy yaitu mantan pacar sandy lee jeong su, tapi sayang sekali keberadaan tokoh ketiga ini kurang digunakan, saya pikir apabila lee jeong su bisa saja dihilangkan dalam novel ini, karena tidak begitu terlihat kegunaannya dalam cerita, saya pikir tokoh ini hanya sekilas lalu, mungkin saja kalau dia dihilangkan tidak akan merubah susunan cerita. Ataupun kalau memang harus ada, sebaiknya diceritakan sisi-sisi emosional antara sandy dan jeon su.
Tokoh lain yang saya rasa penting selain dua tokoh utama yaitu park hyun shik, manajer jung tae woo. Tokoh ini yang pertama kali mempertemukan kedua tokoh utama.
Menurut saya kesimpulan yang dapat diambil dalam novel ini yaitu, kenangan tidak mungkin akan dilupakan dan hilang begitu saja, dia pasti akan kembali, melalui orang terdekat, tapi sepahit-pahitnya kenangan, pasti ada hikmah yang akan dipetik, cinta yang akan diraih.
Dalam novel mbak liana tan ini digunakan sudut pandang orang ketiga, ceritanya lumayan menarik untuk dibaca, saya sudah membacanya berkali kali dan tidak pernah bosan.
Ada sedikit typo, tapi tidak mengganggu jalannya cerita dalam novel.
Mungkin agar tidak spoiler, saya tidak akan mengatakan secara detail cerita, tapi untuk keseluruhan saya cukup puas dengan alur cerita novel ini, ada alur flash back yang menghubungkan jalan cerita dan masa lalu seorang fans yang ternyata juga masih berkaitan erat dengan tokoh utama.
Sedikit melenceng dari alur cerita, dulu saya tertarik membaca novel ini karena lebih dulu membaca novel penulis terkenal “ seoul Cinderella “ lia indra, di bagian pengantar novel bertema seoul ini diceritakan bahwa lia terinspirasi dengan novel summer in seoul ini, jadi saya mulai mencari segala hal tentang summer in seoul.
Mungkin novel “ summer in seoul “ ini termasuk kategori jadul untuk novel bertema korea, tapi tidak ada salahnya untuk membacanya, apalagi kalau anda memang pencinta drama korea yang terkenal dengan kisah cintanya penuh liku dan semanis madu, bacaan ini sangat cocok untuk dibaca.
Saya memberikan 4 bintang untuk novel ini, saya makin penasaran dengan karya karya bagus penulis muda indonesia lainnya yang bertema korea, dan saya sekarang sedang berburu bukunya fade- benang jodoh orizuka.
Senin, 21 Mei 2018
Rabu, 16 Mei 2018
Kebudayaan jawa
Kisah sebuah ikrak
Namaku intan, aku adalah seorang gadis jawa tulen. Tapi sekarang aku tinggal di banda aceh. Ngomong-ngomong tentang budaya jawa, pasti identik sekali dengan adat istiadat yang kental dan diwariskan turun-temurun dari pendahulu sampai dengan anak cucu. Adat jawa terkenal dengan penyatuan-penyatuan unsur alam ke dalam hubungan kemasyarakatan. Contohnya ketika berhubungan dengan pelaksanaan suatu acara, orang jawa tidak langsung “ mengiyakan “ apapun tanpa melihat hari baik mereka. Hari baik sendiri merupakan hari yang dipercaya dapat memberikan suatu keberkahan dan juga keselamatan bagi si empunya acara. Apabila tetap di lakukan di hari yang tidak dianggap sebagai hari baik menurut penanggalan jawa kuno maka hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi.
Pertama kali kudengar hal ini kupikir ini hanyalah sebuah mitos dan juga omong kosong. Hal ini sering kutanyakan kepada ibuku, “ kenapa harus melakukan ini ? “ atau, “ kenapa tidak boleh melakukan itu ? “ maka jawaban ibuku pun klise, “ huss, jangan bertanya macam-macam. “ dan aku hanya mengangguk-anggur tapi di kepalaku penuh dengan tanda tanya. Pertanyaan pun terjawab ketika aku sudah beranjak dewasa, “ oh, ternyata seperti itu, “ memang tidak dijelaskan kenapa harus percaya pada mitos kepercayaan leluhur jaman dahulu, kita hanya perlu melakukannya saja, tanpa harus bertanya lebih lanjut lagi.
Aku lahir di hari minggu, dan kemudian ditambahkan weton wage sebagai embel-embelnya, sehingga menjadi minggu wage dalam penanggalan jawa. Konon katanya waktu aku lahir di dunia ini, aku harus dibuang dulu di dalam “ ikrak” ataupun alat yang biasanya digunakan untuk membuang sampah, bukan karena ibuku kejam atau tidak menginginkanku, tapi karena weton ibuku dan aku sama-sama minggu wage. Mau tidak mau aku harus mengikuti ritual itu, untuk mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Tentu bayi itu tidak dibiarkan berhari-hari di dalam ikrak, harus ada orang lain dengan weton yang berbeda yang memungut bayi itu. Akhirnya ada seseorang yang baik hati yang dengan rela memungut ku untuk menjadi anak angkatnya. Dan orang tersebut adalah budheku sendiri yakni kakak ipar ibuku. Tanpa sepengetahuan orang lain ternyata budheku itu memiliki weton yang sama denganku dan juga dengan ibuku, sehingga tak beberapa lama kemudian akhirnya budheku meninggal. Meskipun terasa ganjil bagiku ketika mendengar ibuku bercerita, tapi sepertinya memang benar pantangan untuk berbohong tentang weton ataupun tanggal lahir dan walaupun sulit dipercaya memang tapi ini nyata, budheku meninggal tanpa ada penyakit apapun. Ibuku sering dijumpai oleh mendiang almarhumah budhe dalam mimpinya, “ kenapa kau memberiku anak ini ? “ walaupun agak sedikit horor tapi seperti yang dibilang oleh tetua kampungku, aku dan ibuku jarang sekali sakit katanya karena melalui serangkaian adat jawa seperti ceritaku di atas.
Beda lagi tentang pernikahan adat jawa, kedua keluarga membicarakan weton kedua mempelai, biasanya calon mempelai yang memiliki weton “ geyeng” ataupun saling berlawanan atau bersinggungan maka hidupnya nanti akan dilanda kemiskinan, kesusahan maupun penderitaan, sehingga banyak dari pasangan yang “ geyeng” tersebut lebih memilih untuk mengurungkan rencana awal mereka untuk menikah ataupun opsi lainnya yakni memilih hari baik sebagai penangkal sengsara yang akan terjadi nantinya. Contoh yang sangat nyata adalah kehidupan tetanggaku, tetanggaku ini sangatlah modern dan tidak percaya kepada weton, penanggalan jawa atau hal-hal yang berbau mitos lainnya dan mereka hanya menganggapnya sebagai dongeng pengantar tidur di malam hari. Walau pun sebenarnya kedua orang tua mereka telah melarang mereka berdua untuk menikah tetapi mereka tetap melangsungkan pernikahan. Dan apa yang terjadi ? Sebenarnya pada awal pernikahan mereka berdua terlihat sangat bahagia tapi kemudian berangsur mengalami suatu kemunduran sedikit demi sedikit. Pada awalnya sang suami di PHK karena mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan tangannya diamputasi sedangkan sang istri terserang kanker tahap awal. Setelah ditanyakan oleh ibuku, mereka mengaku bahwa weton mereka “ geyeng “ alias berlawanan. Mau tidak mau akhirnya mereka percaya bahwa “ hal seperti itu “ memang masih ada dan mereka pun pada akhirnya hanya dapat menyesalinya.
Berbicara mengenai weton maupun penanggalan jawa sendiri terdiri dari lima yakni legi, pahing, pon, wage dan juga kliwon. Sedangkan harinya sendiri dapat dibagi lagi menjadi selasa pon, sabtu pahing, kamis pahing, senin legi, jumat kliwon, rabu kliwon, minggu wage, kamis pon. Bahkan menurut tetua jaman dahulu, sifat seseorang pun dapat dilihat pada weton apa orang tersebut dilahirkan. Seperti misalnya aku yang lahir di minggu wage memiliki arti sifat yang keras namun sebenarnya welas asih maupun baik hati. Dan hal itu tidak sepenuhnya salah, nyata nya aku sedikit keras kepala tapi aku tidak memiliki sifat antagonis seperti di sinetron. Beda lagi dengan adikku, dia memiliki weton kamis pahing, katanya dia memiliki sikap “ anggara kasih” banyak orang yang menyayangi serta mengasihinya karena sifatnya yang berbudi. Jadi penerawangan kepribadian ini hampir mirip dengan ramalan zodiak ataupun ramalan shio tapi versi jawa. Percaya tidak percaya, kembali ke individu masing-masing. Bahkan ketika weton seseorang berulang di hari-hari tertentu, keluarganya pun harus “ bancakan “ atau menggelar pesta kecil-kecilan untuk memperingati hari lahir nya, karena apabila tidak bancakan, maka si orang ini akan menunjukkan perilaku buruk ataupun mood buruk seperti misalnya marah-marah seharian ataupun ngambek seharian. Ke percayaan masyarakat jawa ini Walaupun tidak begitu terlihat sekarang tetapi masih dilakukan dan juga dipercayai oleh beberapa orang.
Kalau menurutku sendiri, kebudayaan ini unik dan satu-satunya yang harus dilestarikan olehku dan teman-temanku yang lainnya agar tetap lestari bukan hanya “ dongeng” untuk anak dan cucu nanti. Ketika orang lain bangga dengan budaya leluhurnya, kita juga harusnya bangga pada budaya leluhur kita agar identitas kita tak tergerus oleh kemajuan informasi dan tekhnologi yang semakin maju. Mari kita melestarikan budaya kita sendiri dengan cara mencintainya.
Namaku intan, aku adalah seorang gadis jawa tulen. Tapi sekarang aku tinggal di banda aceh. Ngomong-ngomong tentang budaya jawa, pasti identik sekali dengan adat istiadat yang kental dan diwariskan turun-temurun dari pendahulu sampai dengan anak cucu. Adat jawa terkenal dengan penyatuan-penyatuan unsur alam ke dalam hubungan kemasyarakatan. Contohnya ketika berhubungan dengan pelaksanaan suatu acara, orang jawa tidak langsung “ mengiyakan “ apapun tanpa melihat hari baik mereka. Hari baik sendiri merupakan hari yang dipercaya dapat memberikan suatu keberkahan dan juga keselamatan bagi si empunya acara. Apabila tetap di lakukan di hari yang tidak dianggap sebagai hari baik menurut penanggalan jawa kuno maka hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi.
Pertama kali kudengar hal ini kupikir ini hanyalah sebuah mitos dan juga omong kosong. Hal ini sering kutanyakan kepada ibuku, “ kenapa harus melakukan ini ? “ atau, “ kenapa tidak boleh melakukan itu ? “ maka jawaban ibuku pun klise, “ huss, jangan bertanya macam-macam. “ dan aku hanya mengangguk-anggur tapi di kepalaku penuh dengan tanda tanya. Pertanyaan pun terjawab ketika aku sudah beranjak dewasa, “ oh, ternyata seperti itu, “ memang tidak dijelaskan kenapa harus percaya pada mitos kepercayaan leluhur jaman dahulu, kita hanya perlu melakukannya saja, tanpa harus bertanya lebih lanjut lagi.
Aku lahir di hari minggu, dan kemudian ditambahkan weton wage sebagai embel-embelnya, sehingga menjadi minggu wage dalam penanggalan jawa. Konon katanya waktu aku lahir di dunia ini, aku harus dibuang dulu di dalam “ ikrak” ataupun alat yang biasanya digunakan untuk membuang sampah, bukan karena ibuku kejam atau tidak menginginkanku, tapi karena weton ibuku dan aku sama-sama minggu wage. Mau tidak mau aku harus mengikuti ritual itu, untuk mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Tentu bayi itu tidak dibiarkan berhari-hari di dalam ikrak, harus ada orang lain dengan weton yang berbeda yang memungut bayi itu. Akhirnya ada seseorang yang baik hati yang dengan rela memungut ku untuk menjadi anak angkatnya. Dan orang tersebut adalah budheku sendiri yakni kakak ipar ibuku. Tanpa sepengetahuan orang lain ternyata budheku itu memiliki weton yang sama denganku dan juga dengan ibuku, sehingga tak beberapa lama kemudian akhirnya budheku meninggal. Meskipun terasa ganjil bagiku ketika mendengar ibuku bercerita, tapi sepertinya memang benar pantangan untuk berbohong tentang weton ataupun tanggal lahir dan walaupun sulit dipercaya memang tapi ini nyata, budheku meninggal tanpa ada penyakit apapun. Ibuku sering dijumpai oleh mendiang almarhumah budhe dalam mimpinya, “ kenapa kau memberiku anak ini ? “ walaupun agak sedikit horor tapi seperti yang dibilang oleh tetua kampungku, aku dan ibuku jarang sekali sakit katanya karena melalui serangkaian adat jawa seperti ceritaku di atas.
Beda lagi tentang pernikahan adat jawa, kedua keluarga membicarakan weton kedua mempelai, biasanya calon mempelai yang memiliki weton “ geyeng” ataupun saling berlawanan atau bersinggungan maka hidupnya nanti akan dilanda kemiskinan, kesusahan maupun penderitaan, sehingga banyak dari pasangan yang “ geyeng” tersebut lebih memilih untuk mengurungkan rencana awal mereka untuk menikah ataupun opsi lainnya yakni memilih hari baik sebagai penangkal sengsara yang akan terjadi nantinya. Contoh yang sangat nyata adalah kehidupan tetanggaku, tetanggaku ini sangatlah modern dan tidak percaya kepada weton, penanggalan jawa atau hal-hal yang berbau mitos lainnya dan mereka hanya menganggapnya sebagai dongeng pengantar tidur di malam hari. Walau pun sebenarnya kedua orang tua mereka telah melarang mereka berdua untuk menikah tetapi mereka tetap melangsungkan pernikahan. Dan apa yang terjadi ? Sebenarnya pada awal pernikahan mereka berdua terlihat sangat bahagia tapi kemudian berangsur mengalami suatu kemunduran sedikit demi sedikit. Pada awalnya sang suami di PHK karena mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan tangannya diamputasi sedangkan sang istri terserang kanker tahap awal. Setelah ditanyakan oleh ibuku, mereka mengaku bahwa weton mereka “ geyeng “ alias berlawanan. Mau tidak mau akhirnya mereka percaya bahwa “ hal seperti itu “ memang masih ada dan mereka pun pada akhirnya hanya dapat menyesalinya.
Berbicara mengenai weton maupun penanggalan jawa sendiri terdiri dari lima yakni legi, pahing, pon, wage dan juga kliwon. Sedangkan harinya sendiri dapat dibagi lagi menjadi selasa pon, sabtu pahing, kamis pahing, senin legi, jumat kliwon, rabu kliwon, minggu wage, kamis pon. Bahkan menurut tetua jaman dahulu, sifat seseorang pun dapat dilihat pada weton apa orang tersebut dilahirkan. Seperti misalnya aku yang lahir di minggu wage memiliki arti sifat yang keras namun sebenarnya welas asih maupun baik hati. Dan hal itu tidak sepenuhnya salah, nyata nya aku sedikit keras kepala tapi aku tidak memiliki sifat antagonis seperti di sinetron. Beda lagi dengan adikku, dia memiliki weton kamis pahing, katanya dia memiliki sikap “ anggara kasih” banyak orang yang menyayangi serta mengasihinya karena sifatnya yang berbudi. Jadi penerawangan kepribadian ini hampir mirip dengan ramalan zodiak ataupun ramalan shio tapi versi jawa. Percaya tidak percaya, kembali ke individu masing-masing. Bahkan ketika weton seseorang berulang di hari-hari tertentu, keluarganya pun harus “ bancakan “ atau menggelar pesta kecil-kecilan untuk memperingati hari lahir nya, karena apabila tidak bancakan, maka si orang ini akan menunjukkan perilaku buruk ataupun mood buruk seperti misalnya marah-marah seharian ataupun ngambek seharian. Ke percayaan masyarakat jawa ini Walaupun tidak begitu terlihat sekarang tetapi masih dilakukan dan juga dipercayai oleh beberapa orang.
Kalau menurutku sendiri, kebudayaan ini unik dan satu-satunya yang harus dilestarikan olehku dan teman-temanku yang lainnya agar tetap lestari bukan hanya “ dongeng” untuk anak dan cucu nanti. Ketika orang lain bangga dengan budaya leluhurnya, kita juga harusnya bangga pada budaya leluhur kita agar identitas kita tak tergerus oleh kemajuan informasi dan tekhnologi yang semakin maju. Mari kita melestarikan budaya kita sendiri dengan cara mencintainya.
Langganan:
Komentar (Atom)

