Wanita itu selalu membenci anak itu, dia tak pernah melihatnya walau sekejap. Anak itu adalah awal kehancuran rumah tangganya yang dahulu harmonis. Suaminya meninggalkannya begitu saja tanpa kata perpisahan, seperti sampah dia membuangnya, hatinya berserakan kala itu. Pria itu lebih memilih untuk hidup bersama dengan wanita lain. Pria baik, nyaris sempurna yang dulu selalu memujanya dan menganggapnya bagai seorang ratu itu pergi karena rasa kecewa yang begitu dalam. Ya, kelahiran bayi berwajah “ indrajit “ itulah penyebabnya.
“ tak kusangka kamu berselingkuh dengan pria lain, kurang apa diriku selama ini, aku selalu mencintaimu, aku memujamu bagai seorang ratu, tak kuijinkan kau melakukan pekerjaan rumah tangga, apa ini balasanmu yuna. “ Sejak saat itu mereka berdua memulai perang dingin selama berminggu-minggu. Batin wanita itu sangat tersiksa bagai di neraka melihat bayi yang sekarang ada di hadapannya. Bayi itu hanya menangis, menangis, menangis saja, membuat telinganya budeg.
Tapi wanita itu masih memelihara si bocah, walaupun dalam kebencian. Dia membenci wajah gadis kecil itu, wajah yang selalu mengingatkannya pada masa lalu, kesedihan dan kesuraman. Wajah yang jelek dan mengerikan, bahkan monster atau alien masih kalah buruk daripada wajah si bocah, yang tak pernah disebutnya dengan nama. Dia selalu memanggil anak itu dengan nama jelek, buruk, monyet, dan kata cacian yang lainnya. Dia biarkan anak itu hidup sesukanya, menikamati semua harta dan kemewahan, tapi tidak dengan cintanya. Untuk menghindari anak itu, dia selalu bekerja sampai larut malam, dia rela lembur tanpa bayaran lebih. Tujuannya hanya satu agar tak melihat wajah buruk itu.
Tapi hari ini berbeda, anak itu menunggunya dengan mata mengantuk, merah menyala seperti api, “ ibu sudah pulang ? “ dia bertanya dengan senyum yang merekah seperti kelopak bunga mawar di pagi hari. Dia tak menggubris pertanyaan itu, wanita itu tak pernah berbicara padanya sejak dalam kandungan mungkin sampai diantar ke liang lahat, kemudian dimakan cacing-cacing yang sedang kelaparan.
Beberapa tahu kemudian, anaknya tumbuh besar menjadi gadis remaja yang tangguh. Wajahnya tak pernah murung walaupun banyak teman sekolah yang mengolok-olok tampilannya yang mereka bilang seperti alien. Hal itu bertambah parah ketika mereka tahu wajah dari sang ibu yang berbeda jauh dengan si gadis yang bagaikan bumi dan langit. “ anak selingkuhan ya, “ kata-kata kejam itu dilontarkan oleh teman-temannya, intonasinya sama dengan perkataan ayahnya waktu dia masih merah dan tali pusarnya belumlepas.
Si wanita, ibu sang gadis beranjak tua, tapi wajhnya menolak tua, bahkan sering dibilang masih cocok mengenakan seragam putih abu-abu. Dengan bertambah usia, pemikirannya pun berubah. Kebencian yang ia tanam semakin memudar. Anak itu mirip dirinya dulu dan ia ingin merubahnya menjadi dirinya seutuhnya. Gadis itu harus berevolusi dari si itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik mempesona setiap mata yang memandang.
“ ibu, lala tidak mau, lala takut, lala takut dosa, “ si gadis menangis ketika ibunya ingin mengirimkannya ke rumah perubahan. Tapi si wanita tidak kalah ngotot, berbiacara panjang lebar tentang kewajiban seorang anak untuk berbakti, bla, bla, bla. Si gadis akhirnya menuruti keinginan ibunya, mereka beranjak pergi menuju tempat yang jauh dan melewati banyak pohon yang nampak menari.
Gadis itu masuk ke kamar, suaranya terdengar sampai keluar ruangan, suara kesakitan dan memilukan. Akhirnya suara itu berhenti, tak ada lagi rintihan meminta pertolongan. Seorang pria berjas putih keluar kamar dengan wajah sendu. “ maaf yuna, operasinya gagal, “ si wanita tidak berekspresi, datar sekali, dia tak sedih juga tak gundah.
Hujan deras masih mengguyur kota di pagi hari yang mendung mengantarkan jenazah seorang anak yang telah dibenci ibunya seumur hidupnya. Wanita itu menerawang, tak ada raut kesedihan di wajah cantiknya. “ yuna, kenapa kau membohongiku ? “ seorang pria mendekati dan menanyakan sebuah penjelasan, karena dia merasa menyesal selama ini menyia-nyiakan anak mereka satu-satunya.
Berita kematian gadis itu tersebar sangat cepat seperti hembusan angin dengan headline yang sengaja dicetak tebal, “ KARENA OBSESI BERAKHIR MATI.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar