Jumat, 27 Juli 2018

Cerpen

                 Bisunya seorang ibu 


           Ada seorang ibu yang tak pernah berbicara kepada anaknya barang sekalipun. Banyak yang bertanya-tanya, entah itu bertanya dalam hati maupun bertanya secara spontan. Mereka menerka dengan delusi mereka sendiri-sendiri, apakah dia anak " haram" anak di luar nikah maupun dia anak " pembawa kesialan" sehingga membuat biduk rumah tangga kedua orang tuanya retak seperti dalam sinetron yang sering ditampilkan dalam televisi.

                Tapi semuanya itu salah, karena dalam kenyataannya hubungan antara suami dan juga istri itu baik-baik saja, nyaris tak ada pertengkaran yang berarti. Jadi itu bukan alasannya. " ibu berbicaralah sekali-sekali kepadaku, aku tahu ibu tidak bisu kenapa ibu diam saja, " pinta cintya, anak perempuan yang beranjak akil baligh dan mulai mengenal cinta monyet itu. Tapi si ibu masih diam saja, membeku, layaknya sebongkah es yang ada di kutub utara. Sebenarnya si ibu punya alasan kenapa dia diam saja dari si cintya masih orok sampai sebesar kingkong, hal ini karena janji nya. Dia selalu percaya suatu janji tak boleh diingkari, janji itu harus ditepati, walaupun janji itu sudah berlalu entah berapa dasawarsa yang lalu, dia selalu ingat bahwa dia pernah berjanji sepenuh hati dengan pikiran dan juga logika yang masih berjalan dengan normal, dia akan terdiam untuk beberapa waktu yang tidak ditentukan entah itu oleh dirinya sendiri maupun oleh Tuhan. Beberapa tahun lalu ketika dirinya masih remaja alias masih belia dan juga bau kencumelakukan segala hal yang dulu selalu menjadi pusat segala kesalahan di masa lalu. Tentu karena dia sekarang adalah seorang nyonya besar yang memiliki banyak pembantu yang bisa disuruhnya untuk melakukan ini dan itu. Dia tak perlu bersusah payah mengeluarkan keringat maupun dimarahi. Tapi dia tetap tidak menggubris anak remajanya, karena tentu saja dia sudah berjanji.

        Gadis itu adalah anak tunggal dalam keluarganya, tidak memiliki kakak maupun abang dan juga tidak memiliki adik perempuan maupun adik laki, dia hidup bersama dengan kedua orangtuanya. Tak heran jika dia akhirnya dimanja oleh ayahnya, tentu saja karena ayahnya telah menantikan kelahirannya sejak lima tahun yang lalu. " jangan memasak nak, nanti tanganmu teriris pisau, " atau " jangan mencuci baju nak, nanti tanganmu kasar, " itu merupakan beberapa larangan yang diberikan ayahnya untuk selalu dipatuhi. Memang ayahnya selalu memanjakannya, membuat ibunya murka, ya, ibunya murka seperti seorang macan betina yang siap menerkam mangsa, setiap pagi dia selalu ngomel seperti burung beo yang cerewet, menyuruh ini dan itu seperti seorang nyonya besar, walau sebenarnya hanya tubuhnya saja yang gempal dan juga besar seperti seorang " gegasi".

                Kali ini juga sama, dia memerintahkan gadis remaja itu untuk mengupas bawang, walaupun dia tahu sebenarnya anaknya alergi terhadap segala jenis bawang entah itu bawang merah, bawang putih dan juga bawang bombay, dia tak benci dengan bentuknya, sama sekali tidak. Tetapi dia tidak suka dengan bau bawang yang menyengat yang menurutnya sama dengan bau kematian yang mengerikan. Dan setiap kali dia menolak, maka ibunya akan segera menyembur ke muka nya kata-kata yang kasar dan juga keruh layaknya air comberan di got samping rumah. Atau pernah suatu kali dia lupa untuk mengambil jemuran yang kala itu sedang dijemur di depan rumah, " tinaaaaa, .... " maka suara ibunya akan segera menggema di angkasa  dan juga memecah segerombolan burung yang sedang terbang untuk kembali ke sarangnya di sore hari. Dan hal itu terjadi berulang-ulang, sehingga gadis itu pun berjanji di dalam hati untuk tidak memarahi anaknya dan juga sebisa mungkin bersikap cuek saja walaupun si bocah ada salah.

                Beberapa tahun kemudian janjinya ia penuhi dan sekarang dia menjadi ibu yang diam untuk alasan yang disembunyikan, tentu sekarang dia tak perlu melakukan segala hal yang dulu selalu menjadi pusat segala kesalahan di masa lalu. Tentu karena dia sekarang adalah seorang nyonya besar yang memiliki banyak pembantu yang bisa disuruhnya untuk melakukan ini dan itu. Dia tak perlu bersusah payah mengeluarkan keringat maupun dimarahi. Tapi dia tetap tidak menggubris anak remajanya, karena tentu saja dia sudah berjanji.